Merasakan

Sepi bukan berarti sendiri. Bahkan ada, ketika berada ditempat yang ramai, seseorang “merasa” sendiri.

Ya, aku pernah berada pada titik itu. Titik dimana aku mengalami arti tidak tau tentang sesuatu yang sedang terjadi. Layaknya debu, yang hinggap kemudian terbang entah kemana ia tertiup angin.

Bukan karena kesalahan, aku bertanya pada diriku sendiri “apa salahku???”. Yang terdengar hanya detakan jantung yang berdebar tidak menentu. Dengan cahaya lilin yang menyinari ruangan, dengan maksud mencari “apa salahku???”

“TIDAK!”

Aku berdiri seperti tidak sedang berdiri, aku membuka jemari tapi hanya beberapa detik. Bukan penyakit. Karena aku belum pernah tertidur lama di rumah sakit. Dan beberapa waktu, aku kerumah sakit hanya membeli surat untuk izin. Tidak lebih.

Berada pada titik itu membuat aku sering bertanya kepada diri sendiri, namun setelahnya langsung lupa. Tidak, aku bukan pelupa. Aku hanya ingin memaksakan diri merasakan kebebasan untuk kebahagiaanku.

Bukan maksudku untuk membuat titik yang banyak di dalam kehidupan, aku hanya ingin berhenti, kemudian merasakan dan bercengkrama dengan diri sendiri.

Ketika kelak, atau sudah terjadi pertanyaan “Yang mana temanku?”. Itu sudahlah kejam karena berusaha merasakan keindahan di dalam kegelapan. Bukan rancu dan memaksa untuk berfikir. Tapi, hanya mencoba untuk merasakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s