Lingkaran Tiga Hati

Saat ini, bulan juli-dan tepatnya tahun 2018.

Sosial media, sangat pesat perkembangan inovasi teknologinya. Bahkan, bisa mempertemukan seseorang hanya dengan aplikasi. Tinder. Setelah aku melakukan pemantauan dan memang nyata, bisa menemukan pasangan-kalo dia juga tertarik. Hanya dengan modal pergeseran foto yang di-mau.

Dari tinder aku belajar, kalo memang sudah kronis dan kepepet. Kaum jomblo bisa memakai aplikasi ini sepenuhnya. Tidak ada yang rugi apabila memang cocok.

Seperti halnya aku, dengan lolita. Aku mengklik “yes” dan ia merespon-untuk berkenalan. Setelah mengalami proses chating selama satu hari. Aku bisa mendapatkan kontak personalnya. Berasa nyambung, ia masih kuliah, dan ternyata adik kelasku di kampus-hanya beda jurusan. “dunia ini sempit”-“jika merasakannya”.

Masih sama dengan PDKT pada umumnya, aku dan lolita saling mengangkat telpon dan berbicara kalo ada waktu senggang. Dan beberapa minggu kenal. Aku main kerumahnya. Kemudian di-suguhi-dengan energen jagung-buatan bundanya. Aku menyeruput pelan-pelan sambl berbincang-bercanda kala itu.

“Aku udah ada sekitar lima naskah, tapi aku malu untuk menerbitkannya” ucap lolita

“Bukannya suka menulis dari dulu? buat apa malu. Lagian kamu kan pake baju” hehe

“ih..kamu!”

Ternyata, dia penulis. Dan mungkin, sekarang ini. Salah satu naskahnya sudah terbit. Aku tidak tau. Soalnya aku di block dari dunia dia. *EHHH SPOILER….gapapa kalo disini mah..kan emang alurnya maju mundur cantikkk…*goyang ala sherina.

Sekiranya memang aku dan lolita sudah terbenam. Dua minggu setelah itu, aku merencanakan untuk mengajaknya pergi ke-pantai. Banyak tujuan kalo ke-sana. Salah satunya untuk; Semedi. Jangan salah mengartikan. Semedi disini seperti meditasi yang mengumpulkan energi murni dari alam semesta.

Tanpa pikir panjang, lolita pun setuju dan aku tidak perlu kerumahnya untuk mengizinkannya pergi denganku. Ia bisa beralasan sendiri.

Kita, pergi dengan kereta yang saat ini sudah cepat dan berada di-bawah tanah. Aku sedikit khawatir, kalo nanti ada sandman datang, bisa runtuh tanahnya. Rute yang harus kami lewati adalah; setelah kereta sampai, kemudian menyambung bis kecil untuk sampai ke muara, dan selanjutnya perjalanan melewati air. Untuk sampai kesana hanya Menggunakan kapal dan bebas, kalo mau berenang juga gapapa-asalkan kuat.

Ketika di kapal, dengan suara mesin yang brutal, dan ombak dilaut lepas. Percakapan orang-yang lain tidak terdengar;

“Kamu kapan sidang lit?

“hah..apa?”

“KAMU KAPAN SIDANG?”

“OHH..SIDANG, UDAH ACC KOK, TINGGAL KETEMU DOSEN LAGI”

Kekurangannya cuman itu, suaranya sangat berisik. Menurutku, tidak sesuai dengan harga jualnya. Atau mungkin banyak yang sedang liburan, sang nelayan jadi menaiki tarif perorang untuk menaiki kapal kelotoknya itu-sebesar 200-500k perorangnya.

Hamparan pasir terbatas-Dan melintang luas air laut-beserta ombak besarnya. Aku berjalan di bibir pantai dengan lolita. Dan melihat ada pohon yang sekiranya-bisa untuk disandarkan, aku menggelar matrasku disitu.

Setelah matras tergelar, aku menatap indah ombak pantai yang beradu dengan pasir. Warna biru dari arah laut, kemudian putih ketika ombak itu mulai berjalan-terguling, dan coklat, ketika ombak dari laut menghantam keras pasir-dan tergulung.

Ketika sedang asik memfokuskan kepada warna yang beradu, lolita menepuk pundaku, dan menahan jemarinya disana. Kemudian aku menoleh ke arahnya. Dan pandangan mataku tepat di kedua matanya. Tanpa terasa, seperti kutup utara-selatan. Aku memajukan kepalaku dan menyamping, ia pun merespon. Perlahan mata lolita serayu-berkedip dan memejamkan matanya.

Aku dan lolita melakukan French kiss, tepat pada bibir dan beradu lidah-bahkan ia menarik lidahku-aku tersendat, dan bertahan sekitar dua menit lebih beberapa detik, dengan backsound suara ombak dan suara burung yang tersamari.

Setelahnya, aku mengelap dengan lenganku yang berkemeja panjang.

“igun, Jangan jorok!. nanti kering sendiri kok. Lagian, anginnya juga kenceng”

***

Lalu, beberapa bulan kemarin-April-Dan tepatnya tahun 2018.

Aku dan dewi ingin pergi ke “kedai rumpi” milik temanku icha. Aku memakai kemeja navy polos, dengan celana levis dan sendal gunung, kancing kemeja aku lepas.

Dewi sedari-tadi sudah menunggu di rumahnya. Aku menduduki dan menyalakan motor, ketika ingin memasuki gigi motor dengan menarik kopling di tangan kiri. Aku mematikan lagi motorku. “Helmku ketinggalan”.

Dewi dengan paras yang cukup selayaknya wanita, rambut terurai rapih nan lurus panjang hingga ke pundak, Kulitnya Putih jika tidak melulu bermain di siang hari, dan coklat ketika selesai beraktivitas. Juga, bibir yang tipis, jikala senyum di hadapan kamera.

Sesampainya dirumah dewi. Aku melihat kedalam rumah yang kebetulan pintu tidak tertutup. Ternyata ia benar sudah menunggu dan duduk di kursi tamu. Tapi, di depan rumahnya, Ada euis sedang duduk di teras , ia adik dari si dewi. Ia sibuk memainkan hapenya, ketika melihat kedatanganku, Ia memalingkan pandangan kearahku;

“ehhh, mau kemana kak igun? hmmmm….mau jalan-jalan sama teh dewi yaa? cieee…cieeeee….Aku ikut dong kak!, kita naik motor bertiga” oceh euis dengan menatapku kunang-kunang dengan posisi kaki tersilang satu diatas kaki yang satu lagi.

“aduhh euis, kamu ini mau ikut-ikut aja urusan teteh. Udah kamu masuk sana, di luar dingin. Jangan lupa tutup pagernya ya” Balas dewi yang-sambil berjalan dan langsung naik keatas jok motorku di belakang

“iyaaaaaa teteeh, euis masuk ke dalem, ehhhh..ehhh…teh dewi jangan pelukan di motor yaa….” ucap si euis yang ngomongnya sambil memanyunkan bibir dan mendekati kearah mukanya si dewi lalu memeletkan lidah.

Kami berdua tidak menanggapi gadis berumur 13 tahun itu, dan ia pun langsung masuk dan menutup rapat pagarnya.

Diperjalanan, aku mengemudikan motorku dengan santai, tidak begitu ngebut seperti biasanya. Karna aku ingin menikmati angin dimalam hari. Yaaa, walaupun ada sedikit polusi yang tercemar perkara knalpot motor yang masih berasap dan juga debu-debu yang berterbangan. Walau debu itu tidak terlihat kasat mata. Tapi bisa dirasakan ketika debu itu masuk ke hidung atau kuping. Bisa jadi bersin dan kelilipan congee…

Beberapa saat ketika sebentar lagi sampai di kedai rumpi, terasa seperti ada yang bergerak menggelitik dari kedua pinggangku. Dan ternyata dewi, ia sedang berusaha mengancingkan kemejaku yang lepas, dari belakang, dengan kedua tangannya yang menyelinap dari samping pinggangku, dan di apit oleh kedua lengan, ia tetap mengancingkan semua kancing yang ada di kemejaku, dimulai dari kancing bawah sampai mengancingkan yang atas.

Sesampainya di kedai, aku memperhatikan ruangan sekitar, dan melihat bangku yang masih kosong, dan kami pun berjalan ke meja nomer 3. Setelah duduk dan membaca menu yang di sediakan di meja itu,

“waduhhh…lihat siapa yang datang…kemana aja lu, jarang mampir ke tempat gue” icha berseru sambil memegang menu catatan kecil beserta pulpennya

“eh elu cha, gua pesen nasi goreng satu cha-kamu mau pesen apa dew?”

“ehmm..saya pesen cumi asem manis sama nasinya setengah ya kak-igun aku pesen minuman buat kamu ya-terus sekalian minumnya es jeruk sama anggur satu ya kak”

“gun, itu cewek lu kaku amat, udah kayak kotak amal” bisik icha tepat di telingaku

dewi yang-hanya melihat dan membolak-balik menu makanan, kemudian berdiri dan berjalan ke-westafel yang berada di sudut sebelah barat kedai. Sementara aku hanya menggoyang-goyangkan kaki sambil bersiul seolah sedang tidak terjadi apa-apa.

Tidak lama menunggu, pesanan yang ditunggu datang dan yang membawa pesanan itu masih orang yang sama. Perlahan ia menaruh satu piring-piring yang lain.

“gun, gimana skripsi lu? udah kelar belom?” tanya icha sambil menuangkan anggur kedalam gelas

“boro-boro cha, datanya beloman gua riset lagi, males banget gua. Elu emang udah?”

“yeelahhh..si PEA, hari giniiii beloman ngerjain skripsi….lu nanya gue??? yaaa, gue belom lah!..hahaha”

“cha, gua pesen pancake blueberry satu ya”

Sambil menyantap ria, dan meminum anggur seteguk-demi tegukan. Dan Agak sedikit pusing.

“gun, kamu kenal sama yang lagi open mic itu?” tanya dewi yang sedikit auto fokus ke panggung kecil di depan sana,

“aku gak begitu akrab sih sama dia, cuman aku kenal mukanya. Aku juga gak tau namanya siapa”

“kan dia satu komunitas sama kamu, masa gak akrab sih. Kamu jangan males dong…”

Memang, setiap hari kamis, kedai rumpi dipenuhi oleh para comic profesional atau amatir, mereka mencoba uji mental dengan mengetes materi. Tidak ada penonton bayaran disini. Murni datang karena ingin tertawa.

“ehmm…perkenalkan, nama gua ido

Gua ini dari jakarta ya,

Jakarta itu ibukota,

Kalo ibu kita,

ibu-ibu

“Ihh..itu aneh, ya iyalah, ibu kita mah ibu-ibu” dewi ngomong sendiri-dengan kesal

“iya perkenalkan nama gua oboy, dan menurut gua, cewe di dunia ini terutama di indonesia itu populasinya lebih banyak dari pada cowo. Berdasarkan hasil penelitian yang gua dapet, gua berhasil ngumpulin informasi kalo perbandingan cewe dan cowo itu, 10 banding 4, Skala ritcher”

Open mic belum selesai, tapi makanan yang kita pesan udah habis. Karna malas untuk memesannya lagi-dan duitnya abiss. Aku mengajak dewi untuk pulang kerumah.

Kondisi di perjalanan semakin sepi, karna memang sudah hampir larut malam. Hanya ada cewek-cewek di pinggir jalan. Dan teman-yang lain. Kemudian, di dekat pom bensin, aku memberhentikan laju motorku dan meminggir kekiri. Aku turun, dan merogoh saku celana dan mengepalkannya.

“dewi, aku gak mau berlama-lama lagi, aku gak bisa ngerangkai kata bagaimana buat ngungkapin aku suka sama kamu. Aku bener-bener suka sama kamu udah lama, sejak dulu sebelum kamu mengetahuinya-dan sekarang kamu sudah tau. Apa kamu mau untuk jadi pacarku?” igun berusaha meyakinkan omongannya dan memberinya rautan sebagai simbol-yang di genggamnya daritadi

“eh kok kamu ngasih rautan ke aku, buat apa?”

“rautan ini, sebagai objek-seperti kamu-jika rasa sayangku ini tumpul, maka rautan ini yang membuatnya jadi runcing kembali”

“duh igun, gimana ya, aku gak bisa ngasih jawabannya sekarang, gun. Aku harus mikir-mikir dulu. Tapi, rautan ini boleh buat aku ya? soalnya, bulan depan aku mulai UAS”

Dengan tetap bersitabah, igun melanjutkan untuk membawa dewi pulang kerumahnya, tanpa jawaban yang ia beri. Mungkin betul, tidak harus terburu-buru. Dan mungkin salah, aku terlalu memikirkan egoku untuk menyatakannya. Dia temanku sejak dulu. Aku tidak mau merusak pertemanan ini. Tapi sudah terjadi dan, aku. Ah-sudahlah

***

Sebulan kemudian, Mei-2018.

Dewi akan mengerjakan UAS selama satu bulan penuh-Kecuali hari libur. Di hari pertama, ia lupa untuk belajar. Karna semalam tidak ada waktu untuk belajar dan pagi harinya sudah ujian. Ia mempersiapkan peralatannya-Meruncingkan pensil dengan rautan berwarna biru. Sedang santai meraut, kemudian dewi terdiam, dan merasa ada yang aneh dengan aura yang terpancar dari rautan itu. Seperti ada yang memanggil di dalam pikirannya;

“Dewi, Kamu munafik!”

Sedangkan igun. Ia seperti biasa hanya menjaga toko kecilnya. Distro kecil ia dirikan di pinggir jalan. Namun, tidak seperti kemarin-waktu itu. Hari ini sepi pengunjung. Sekiranya ada yang melipir, dia hanya numpang untuk ke-kamar mandi.

Tidak seperti biasanya. Dewi terburu-buru dan langsung pergi dari kampusnya, dengan menaiki angkot untuk kembali pulang ke-kos-kosannya. Ia jadi tidak peduli dengan temannya yang biasa-setelah selesai ujian, mereka ada evaluasi-Tentang kunci jawabannya keluar atau tidak.

Tapi dewi, sesampainya di-kosan. Ia duduk di kursi belajarnya, dan menaruh ranselnya di atas meja. Kemudian mengeluarkan tempat pensil-Dan rautan berwarna biru. Ia memegangnya dengan sangat kencang. Lalu, ia memejamkan mata. Layaknya cinema-Muncul suatu adegan di-dalam pikirannya sendiri.

Tanpa di sadari dengan hati. Batin dewi terguncang-Sentak ia mengambil pena dan sepucuk kertas. Kemudian, menulis kata-kata di-dalam surat itu;

Aku sulit untuk berkata tidak, apalagi aku adalah wanita yang egois dengan urusanku, aku tidak pantas denganmu, lagi pula banyak yang lebih baik dariku, mungkin kamu belum membuka mata. Maaf, aku lebih memilih untuk sendiri. Juga aku tidak enak dengan ibu kamu yang memang sudah kenal lama dengan keluargaku. Aku tidak ingin merusak semuanya. Mungkin aku kejam jika aku menolak cintamu, aku mengarti apa yang kamu rasakan, namun aku lebih ingin persahabatan kita lebih diutamakan, itu akan lebih baik dari segalanya.

“Maaf aku masih belum siap”

Dewi Handayani, 2018

Dewi menutup pena-Dan melipat kertas itu, membentuk simpul seperti perahu-Ada segitiga-Dengan keruncingan di atasnya. Ia melihat ke-kertas segitiga itu. Lalu berjalan keluar dan membuangnya ke-tempat sampah.

Hari sudah mulai memancarkan sinar jingga, dengan oranye di sudut langit yang terpancar malu oleh matahari yang akan terbenam. Waktu istirahat igun telah tiba. Ia menutup tokonya. Dan nanti malam ia akan membukanya lagi. Setelah menutup rollingdor dan menguncinya dengan rapih-Beserta gembok yang dipasang. Ia membuka layar touchscreen. Dan melihat gambar yang ada di line. Gambar itu berupa sepucuk kertas yang ditulis dengan pena dan di tangkap oleh kamera. Igun membacanya,

Sedang dewi, gelisah, membolak-balik badannya di tempat tidur, dan kemudian beranjak keluar. Untuk memungut sepucuk kertas itu yang ada di-tempat sampah. Kemudian membuka kertas itu dan memfotoi-Hingga terlihat semua frame-Tanpa ada yang ketinggalan sisi kanan ataupun kiri.

“BANGSATTTTT !….CEWEK SIALAN!!!”

Igun berdiri dan secara reflek-Membanting touchscreen ketanah. Kemudian jongkok di depan toko kecilnya. Hanya suara klakson pendek-pendek, dan suara riuh dari jalanan ia mendengar saat itu. Sambil merunduk-Dan memegang kepalanya dengan kedua tangan. Kemudian, Ia mengambil kembali touchscreen yang ia banting.

“duh..elah, mana retak lagi layar hape gua. Udah tau service sekarang mahal”

***

Malam ini, masih seperti biasanya. Hanya ada aku dan bintang di langit. Tapi, bintangnya cuman sedikit, biasanya jam 12 malam seperti ini bintangnya sudah banyak muncul dan membentuk rasi bintang. Aku melamun dan memikirkan tentang dewi. Cewek sebayaku yang menolak saat aku menyatakan kalo “aku sayang sama dia”.

Terpikir olehku, “apa sejatinya yang kurang diriku ini?”. Kemudian terjawab oleh diriku sendiri;

“banyak goblok yang kurang dari elo!”.

Kasar sekali batinku ini menjawab pertanyaanku sendiri. Aku juga sama seperti yang lain, kalo makan pake piring atau daun pisang, dan kalau minum memakai gelas atau langsung dari dinspenser.

Aku berhenti melangkah.

Pun aku tidak mengira rasa ini menusuk.

Waktu tak akan pernah kembali,

Aku berserah diri untuk meresapi noda yang ada di hati ini.

Aku mohon, menghilanglah noda ini.

Pembersihan jiwa dengan kepasrahan batin.

Aku jujur untuk menghilangkan derita yang memikirkan buah karma.

Apabila daun berguguran, maka bunga baru akan tumbuh.

Jika bisa, aku akan bingkai matahari untuk mencerahkan hatimu.

***

Akhir bulan Juli-Dan tepatnya tahun 2018.

Lolita, ia semakin perhatian denganku. Juga semakin cuek. Karna aku tidak begitu peduli dengannya. Tidak penting. Memang, jika dibanding dengan dewi. Ia lebih cantik. Dan juga lebih berisi karna dia mengatur porsi kesehatannya. Rambut bondol seraya cewek tomboy kalangan menengah. Dan kacamata yang jarang ia pakai, namun di gesernya ke atas kepala. Jemarinya lembut, bagai badcover sehabis di laundry.

Sepulangnya dari pantai waktu itu, lolita memang melihat kekuranganku. Gemetar di sekujur tubuh, terutama di bagian lengan hingga telapak kaki. Mungkin, ia mengetahui. Tapi aku tidak memikirkan itu. Aku hanya ingin memusnahkan Dewi dari pikiranku. itu saja. Sudah jelas, pertemanan memang bisa rusak karna rasa. Memang itu fakta dan belum bisa aku menghilang.

Tapi lolita; Hanya hubungan terselubungku. Aku tidak tau menamai apa untuk hubungan itu. Lolita suka kepadaku. Tapi aku tidak sayang kepadanya. Alam semesta sudah mengatur semua rencana ini. Aku, bukan lawan jenismu.

Meskipun telah jauh diri melangkah,

Jejak kisah lalu kerap membayang.

Bergelayut membuat hati gelisah

Kuakui kepingan cerita pernah tercipta,

Mengeja perjalanan, membuat hasrat membiru.

Kuakui ketidak berdayaanku menghapus jejak,

Selalu membenalu di setiap gerak-aktivitasku

Mengikuti irama jantung yang berdetak

Dan Kusadari mimpi pernah tercipta menghiasi langit jiwa,

Telah berlalu pergi, menjadi sebuah cerita semu.

Aku juga yakin; Akan hilang, seiring bertambahnya kesemangatan jiwa.


END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s